kajian al-Hikam; karya Quthbul 'Arifin Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu).
Semoga kita dimudahkan dalam segala kebaikan, dan dijauhkan dari segala keburukan; karena setiap keburukan dibenci oleh Allah Jalla DzikruHu, semoga hati kita tidak dimatikan karena selalu kita hidupkan dengan mengingat Allah Ta'ala, kebesaranNya, dan selalu berusaha mendekatkan diri (taqarub kepadaNya). Amiin.
Kali ini, kajian Al-Hikam sampai pada maqolah ke-VI; semoga kita dimudahkan dalam memahami dan mengamalkannya. Berkata Qutbul 'Arifin Ibnu Athailah (qaddasalLahu sirrahu);
لاَيَكُنْ تَأَخّرُ أمَدِ الْعَطآءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَآءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ؛ فَهُوَ ضُمِنَ لَكَ الْإِِجَابَةِ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لَا فِيْمَا تَخْتَارُهُ لِنَفْسِكَ؛ وَفِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ.
"Janganlah tertundanya (wujud) anugrah pemberian (ijabah doa) dengan penuh kesungguhan dalam berdoa, menjadikanmu putus asa.
Karena DIA (Allah Ta'ala) telah Menanggung ijabah dalam doa sesuai apa yang dipilihkannya untukmu; bukan apa yang kamu pilih atas dasar nafsumu, pada waktu yang DIA (Allah) kehendaki, bukan pula pada waktu yang kamu inginkan."
Berdoa adalah intinya ibadah, setidaknya dalam doa sendiri terdapat dua pokok pengejawantahan dari substansial makna ibadah, yaitu; merasa butuh (al-iftiqar) dan merasa rendah diri (at-Tadzallul) dihadapan Allah Ta'ala. Hamba Allah yang mengangkat tangan, menengadahkannya, seraya berharap memohon kepadaNya tidak sedang dalam murkaNya, akan tetapi justru sedang mencari atau telah menemukanNya, kecuali orang-orang yang berdoa akan tetapi tidak memahami doanya (apa yang diminta) atau bahkan tidak sadar bahwa ia sedang dalam keadaan berdoa (memohon) kepada Allah Ta'ala.
Akan tetapi bagaimanapun juga berdoa adalah permohonan makhluk kepada Allah Ta'ala; doa-doa meminta keburukan (la'nat) kepada sesama mukmin tidak termasuk dalam doa yang sedang kita bahas, karena yang demikian dibenci oleh Allah Ta'ala. Selain itu alangkah baiknya dalam adab berdoa supaya mementingkan kehidupan akhirat dari pada kepentingan duniawiyah, sebagaimana yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya bahwa bersungguh-sungguh dalam hal yang madlmun (telah dijamin) adalah butanya mata hati (bashirah).
Tidak ada doa yang tidak mustajabah (terkabulkan) sebagaimana janji Allah Ta'ala yang masyhur dalam Al-Qur'anul Karim (QS. Ghafir, ayat; 60).
ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ [غافر؛ ٦٠]
"Memohonlah kalian kepadaKU (Allah Ta'ala) maka pasti aku akan mengabulkannya untuk kalian."
Akan tetapi disindir dalam hadits nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari (radlialLahu'anh): Bagaimana seseorang memohon kepada Allah Ta'ala menginginkan mustajabah sedangkan apa yang dimakan dan pakaian yang dikenakan haram?
ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟
"Rasulullah ﷺ menyebutkan (dalam hal berdoa) layaknya seseorang yang jauh dalam perjalanannya, penuh dengan debu, menengadahkan tangannya ke atas, lalu mengatakan ya 'Tuhan.. ya Tuhan..' akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan makanan yang diberikannya pun haram; lalu bagaimana yang demikian dapat mustajabah doanya?."
Selain adab dalam doa diatas sebagaimana dikatakan oleh Qutbul 'Arifin Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu) bahwa berdoa itu dianjurkan dengan ilhah (bersungguh-sungguh) dan jangan sampai seseorang berdoa berputus asa karena apa yang diminta tidak kunjung terkabulkan, karena bisa jadi doa yang kalian minta sudah terkabulkan dengan bentuk yang lain, yang Allah Ta'ala pilihkan terbaik untuk kalian, atau Allah Ta'ala memilihkan waktu yang tepat untuk kalian.
Dalam hadits nabi ﷺ riwayat Imam Baihaqy (rahimahulLah) yang masyhur; bahwa doa itu setidaknya mustajab (terkabulkan) dalam tiga macam; pertama disegerakan, kedua disimpan sebagai balasan kebaikan yang lebih besar kelak diakhirat, dan yang terakhir terkabulkan dalam bentuk lain.
مَا مِنْ دَاعٍ يَدْعُو إِلَّا كَانَ بَيْنَ إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تعجل له طلبته، وإما أن يدخر له ثوابه، وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها.
"Tiada seseorang yang berdoa kepada Allah Ta'ala kecuali salah satu dari tiga kelompok, adakalanya disegerakan permohonannya, atau adakalanya disimpan sebagai balasan kebaikannya, atau adakalanya digantikan sebagai penolak keburukan darinya yang semisal."
Demikian, kajian kita Semoga bermanfaat, menambah wawasan keilmuan kita, dan semoga kita termasuk hamba-hamba Allah Ta'ala yang pandai menyadari bahwa tidak ada doa kita yang tidak mustajab.
WalLahu a'lam!
0 komentar:
Post a Comment