Assalamualaikum WarahmatullaHi WabarakatuH. Selamat sore para pemerhati kajian al-Hikam, karya Quthbul 'Arifin Syaikh Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu).
Semoga Allah Ta'ala Menganugerahi kita kesehatan, dijauhkan dari segala keburukan. Semoga dimudahkan kita dalam memahami kalam punggawanya orang-orang yang ma'rifat bilLäh Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu):
Sebagaimana yang kami beritahukan lewat postingan singkat, mulai kali ini kajian Al-Hikam karya Qutbul'Arifin Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu) akan diposting Jum'ah sore, sebagaimana sebelumnya Jum'ah pagi. Tahyir pergantian waktu ini sebagaimana saran dari rekan-rekan yang masih sangat disibukkan dengan banyak hal ketika masih pagi, dan kebanyakan mereka memilih menandai lalu membacanya ketika sore hari, atau bahkan malam harinya sebelum istirahat. Selain itu penulis juga diuntungkan banyak hal dari pada memostingnya dipagi hari.
Sebenarnya al-faqir cuman belajar istiqomah dalam (menurut al-faqir) kebaikan, setiap kali memosting kajian Al-Hikam difacebook ini, sebagaimana pilar setiap kebaikan (ihsan) adalah istiqomah, puncaknya adalah husnul khatimah, sedangkan kesungguhannya adalah niat dan basmalah dalam acap kali ibtida permulaanya.
Bismillah, berkata Qutbul 'Arifin Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu);
«لا يشككنك في الوعد عدم وقوع الموعود به، و إن تعين زمنه؛ لئلايكون قدحا في بصيرتك، و إخمادا لنور سريرتك»
"Sungguh, benar-benar jangan sampai menjadikan-mu ragu pada suatu janji (Allah Ta'ala), yang tidak kunjung terealisasi; meskipun (janji tersebut) jelas kapan waktunya tiba.
Demikian, supaya tidak menodai mata hati-mu, dan memadamkan cahaya jiwa-mu."
Terkadang berada dalam jalan menuju ridla Allah Ta'ala, kiat-kiat ingin mendekatkandiri padaNya justru sepertinya menjauh, doa yang diajukan tidak kunjung turun, perjuangan istiqomah dalam kebaikan justru sepertinya dipersulit. Sepertinya Quthbul 'Arifin Ibnu Athailah Assakandary (qaddasalLahu sirrahu) memerhatikan hal ini, sebagaimana ungkapan dalam kitab hikam-nya "Jangan menjadikanmu ragu janji Allah Ta'ala yang sepertinya tidak/belum terealisasi...". Kenapa demikian? Karena Allah Ta'ala Mengabulkan doa dan membalas (lebih banyak) kebaikan sesuai waktu yang Allah Ta'ala pilihkan dan dalam bentuk sesuatu yang Allah Ta'ala tentukan.
Santri-santri yang pernah mendapatkan ijazah amalaiyah tertentu dari gurunya atau Ulama tertentu, alangkah baiknya tetap istiqomah dalam mengamalkannya, meskipun atsar (realitas) dari amalaiyah tersebut tidak kunjung terlihat. Begitu juga para guru dan cendekiawan yang dilebihkan dalam ilmu agama yang mampu memahami al-Qur'an dan hadits nabi, alangkah baiknya ketika menjumpai amalan serta doa tertentu lebih baik diamalkan dengan istiqomah atau jika sudah memiliki istiqomah amalaiyah yang sepadan (mempunyai kemiripan) minimal dilakukannya sekali dalam seumur hidup sebagai tabarruk (ngalab berkah) dan menjauhkan ishror (acuh-tak acuh) dalam kebaikan. Meskipun amalaiyah tersebut tidak tampak dalam realitas menembus 'arsy dan disegerakan datang pertolongan Allah Ta'ala dalam mengabulan (mustajab). Untuk kali ini sebagaimana yang dikatakan Imammunä Imam Nawawi (rahimahulLah) dalam kitab al-Azkarnya.
Para pendukung mutu manikam kalam-kalam hikmah dalam Al-Hikam, seperti Ibnu Ajibah (qaddasalLahu sirrahu) mengisyaratkan tidak hanya berhenti pada janji-janji Allah Ta'ala. Akan tetapi mahabah begitu nyata ketika pejalan menuju ridla Allah Ta'ala istiqamah dalam amaliyah apa yang dijanjikan Allah Ta'ala. Seperti yang sudah dicontohkan Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam dalam menjelang perang badar (belakangan menjadi trending dibacakan dalam puisi aktivis pergerakan politik).
Riwayat Ibnu Ajibah (qaddasalLahu sirrahu) doa Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam dalam perang badar:
اللهم عهدك ووعدك؛ اللهم إن تهلك هذه العصابة لم تعبد بعد اليوم.
"Ya, Allah.. janji Engkau, ya Allah.. janji Engkau; Ya Allah.. jika sampai perkara yang besar ini (perang badar) kami umat Islam dikalahkan, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini." Bahkan, dalam riwayat yang tersebut: saqatha rida'ahu; sampai-sampai jatuh selendang rosulullah ShallalLahu 'aialihi wasalam.
Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq (radlialLahu 'anh) menghampiri dan memegang pundak rasulullah seraya mengatakan:
حسبك يارسول الله، فإن الله منجز لك ما واعدك.
"Cukup.. cukup.. ya rasulullah, sungguh Allah Ta'ala itu Agung (dalam) membalas kebaikan dan apa yang dijanjikan kepada engkau".
Wal hasil, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam tidak berhenti pada janji Allah Ta'ala, akan tetapi bashirah serta jiwa beliau telah berlimpah mahabah kepada Allah Ta'ala, sedangkan Ash-Shiddiq radlialLahu 'anh berhenti pada janji Allah Ta'ala. Semuanya dalam kebaikan bahkan berlimpah dalam puncak kebaikan. Abu Bakar Ash-Shiddiq (dalam hal ini) memperinci kebaikan Allah Ta'ala sedangkan rasulullah shalallahu alaihi wa salam dalam puncak mahabanya kepada Allah Ta'ala.
Yang buruk itu kalian ragu pada janji Allah, sehingga menjadikanmu berhenti dalam jalan menuju ridla Allah Ta'ala, berhenti dalam amaliyah atau doa tertentu, sehingga mengeruhkan mata hatimu dan memadamkan nur ILAHiyah yang hampir saja menerangi seluruh kehidupanmu.
WalLahu a'lam, mungkin ini terlalu panjang. Tapi nawaitu semoga yang membaca kesuluruhan dimurahkan dalam kebaikan, terutama dalam memahami dan mengamalkannya, intinya inti semoga menjadi bekal memapah puncak kehidupan dunia yang husnul khotimah.
WalLahu yuwafiqunä, mohon maaf atas segala kekurangan, mohon bersabar dalam pengamalan. Semoga keberkahan tidak berhenti dipersimpangan jalan.
Ihdinash shiräthal mustaqïm, tsummas salamu'alaikum warahmatulLahi WabarakatuH.
0 komentar:
Post a Comment