Thursday, 14 March 2019

Mutiara kalam

Kitab Al-Hikam ::makalah ini lebih spesifik ke pembahasan takdir. kita sepakat mengIMANinya adalah wajib bil 'aqaid; WA MAN LAM YASLAM BIHA FAHUWA BAATHILUN BIL 'AQOID (Siapa yang tidak ridla dengan takdir Allah Ta'ala, maka batal secara aqidah keyakinan). Berkata Ibnu Atahilah Assakanday (rahimahulLah):

سوابق الهمم لاتخرق أسوار الأقدار
"Perkara yang terlampaui dari kemampuan (makhluk) itu tidak mampu merobek (merubah) rahasia ILAHIyah seperti takdir (ketetapan Allah Ta'ala)."

Tentunya, pembahasan takdir disini interpretasi dari makna substansial takdir itusendiri. Lebih luas pembahasan takdir dapat dijumpai dalam pembahasan aqidah, dijelaskan dalam kitab-kitab kalam (aqidah), dan diperdebatkan oleh mutakalimin. Meski demikian agaknya perlu sedikit ta'rif definitif tentang apaitu takdir?

Takdir dalam bahasa sehari-hari kita adalah manifestasi serapan bahasa dari qadla dan qadar Allah Ta'ala. Secara aqidah, Ahlussunah mengikuti rel yang sudah digariskan melalui manhaj Asy'ariyah meneruskan pendahulunya Imam Ahmad bin Hambal, berikut pendapat manhaj-nya Maturidiyah.

Tidak terlalu berbeda antara keduanya. Menurut Asy'ariyah qadla adalah IRODATULLAH FIL AZALI BIL ASY-YA' QABLA IJADIHA; irodah (kehendak) Allah Ta'ala kepada apapun yang ditentukan dizaman azaly sebelum Allah Ta'ala Menciptakannya. Sedangkan Ulama Maturidiyah mengatakan: HUWA AL-FI'LU MA'A ZIYADATIL AHKAM; yang dilakukan oleh Allah Ta'ala dengan ketentuan²-Nya. QILA AL-'ILMU MA'A TA'LIQIHI AL-AZALI; Pengetahuan Allah Ta'ala atas segala sesuatu dizaman azaly. (Al-Manhal As- Siyal, Hilafu baina Asy'ariyah wal Maturidiyah; hal 148-149, Cett; Darr al-Kutub).

Sedangkan QODAR, menurut Asy'ariyah adalah IJADULLAH TA'ALA AL-ASY'AA 'ALA QADARIN MAKHSHUSH WA TAQDIIRIN MU'AYYAN FII DZAWATIHA WA AHWALIHA; Realistas apa yang diciptakan Allah Ta'ala pada apapun dengan kadar tertentu dan kenyataan tertentu; baik  dzatnya maupun ahwalnya. Seperti Allah Ta'ala Menciptakan manusia dengan bentuk tertentu dan perilaku tertentu. Sedangkan menurut Maturidiyah adalah: TAHDIDU TA'ALA AZALAN KULLA MAKHLUK BI HADDIHI ALLADZI YUJADU BIHI; Batas-batas ketentuan Allah Ta'ala yang ditentukan sejak azaly kepada semua makhluk, dengan batas realitas yang ada. (Al-Manhal As- Siyal, Hilafu baina Asy'ariyah wal Maturidiyah; hal 148-149, Cett; Darr al-Kutub).

Kalau kita perhatikan, penekanan Asy'ariyah pada QADLA' adalah apa yang dikehendaki Allah sedangkan Maturidiyah lebih cenderung pada apa yang dilakukan oleh Allah Ta'ala, dikuatkan dengan beberapa pendapat lain (qila) apa yang diketahui Allah Ta'ala, semuanya ta'aluq pada ketetapan sejak zaman azaly. Sedangkan dalam QADAR tidak ada perbedaan kecuali dengan redaksi pemilihan kata yang berbeda.

Jika kita kembali ke Al-Hikam, maka jangankan cuma keberhasilan dzahir seperti kaya atau miskin, pandai atau jahil, bahkan karomahMU (sesuatu yang melebihi kemampuanmu) itu tidak mampu merubah apa yang sudah digariskan oleh Allah Ta'ala. Dengan demikian apakah disini oleh Ibnu Atahilah (rahimahulLah), kita diajarkan apatis, malas berbuat kebaikan, atau tidak melakukan apa-apa? Buat apa kita beramal kalau semua sudah ditentukan oleh Allah Ta'ala? Tidak. Sama sekali tidak. Justru disini kita dijarkan untuk banyak berbuat kebaikan, siapa tau rahasia ILAHIyah menentukan kita menjadi orang sukses dalam dzahiriyah, dan tidak ada kesuksesan yang lebih sukses kecuali kelak diikutkan kita dalam barisan orang-orang yang bertakwa. Bukankah takdir itu termasuk rahasia ILAHIyah?

Qutbul Awliya, Syaikh Abdul Qadir al-Jilany (qaddasalLahu sirrah) dalam al-Ghunyahnya mengatakan; Andaikan semua makhluk memeras kemampuannya untuk memberikan kemanfaatan pada seseorang, dengan tanpa ketentuan Allah Ta'ala, pasti sedikitpun tidak akan mampu memberikan kemanfaatan. Begitujuga jika mereka berupaya memberikan kemadlaratan pada seseorang, tanpa ketentuan Allah Ta'ala, sedikitpun tidak akan mampu.

Setelah itu beliau meriwayatkan sebuah hadis, dalam sabdanya, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, bahwa suatu ketika Umar bin Khattab (radlialLahu 'anh) bertanya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam tentang keadaan amal manusia. Kemudian Rasulallah menjawab:

اعمل يا ابن الخطاب فكل ميسر لما خلق له، فمن كان من أهل السعادة فيعمل للسعادة، ومن كان من أهل الشقاوة فيعمل الشقاوة.
Beramallah (berbuat kebaikan dan melakukan ketaatan), wahai Umar Ibnu Khattab, karena segala amal mempermudah ketentuan untuknya. Barangsiapa (sudah ditentukan) termasuk orang yang berbahagia (sa'adah;dengan balasan surga, dan bertemu Allah Ta'ala serta kekasihNya) maka ia beramal dengan amal sa'adah. Dan barangsiapa (telah ditetapkan) termasuk Ahli saqawah (celaka; dan digunakan dineraka) maka ia akan beramal saqawah. (Al-Ghunyah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilany, juz I, hal 140. Cett; Darr al-Kutub).

Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat, dan Allah Ta'ala Mempermudah kita untuk melakukan banyak kebaikan, beribadah serta berharap ridla kepadaNya. Dan yang terpenting semoga kita termasuk Ahli sa'adah, orang-orang yang Husnul Khotimah. Dipertemukan kita kelak, dengan Allah Ta'ala serta kekasihNya, Nabiyuna Muhammad shalallahu alaihi wassalam, beserta para guru dan orang-orang yang kita cintai. Amin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Mutiara kalam

0 komentar:

Post a Comment